Makna Kemerdekaan 2021 Bagi Karir


Dirgahayu negeriku, diperingati setiap 17 Agustus. Tapi baru bisa kubuat tulisannya satu hari setelahnya.

Gak apa-apa lah ya. Yang penting masih di bulan Agustus :p

Karena kali ini gue mau menuliskan makna kemerdekaan versi gue berdasarkan hidup yang gue alamin per 17 Agustus 2020 silam sampai setahun kemudian.

Juga tentu saja kemerdekaan apa yang menjadi harapan gue selanjutnya buat hidup gue pribadi dan tanah air tercinta ini.

Merdeka dari pengangguran

Tahun 2020 silam merupakan tahunnya pandemi. Di Indonesia, baru kerasa per Maret kemudian mulailah diberlakukannya PSBB sampai New Normal.

Banyak hikmah dari pandemi 2020 yang sudah gue abadikan di tulisan ini.

Gue mau review sedikit. Singkat cerita habis lebaran, tempat gue bekerja saat itu terdampak dari segi finansial. Daya beli konsumen saat itu jauh menurun membuat pemasukan seret.

Agar bisa tetap bertahan, bos akhirnya mengambil langkah untuk mengurangi beban pengluaran yaitu pada sektor penggajian.

Praktis satu SDM dipersilakan pergi dengan diberikan pesangon sejulah satu bulan gaji.

Ya. SDM tersebut adalah gue.

Syok ? Iya !

Kecewa ? Gak juga...

Gue paham sama situasi, juga gue mikir kenapa harus gue yang pergi. Karena, gue dianggap mampu dan punya berbagai alternatif untuk bisa tetap mendapat penghasilan.

Apakah dari skill yang gue punya trus gue cari kerja lagi. Atau merealisasikan berbagai ide yang selama masih kerja, hanya sekedar wacana aja.

Sebenarnya gue udah menemukan kegiatan untuk mendapat penghasilan lewat bisnis afiliasi produk buku digital. Tapi saran nyokap buat cari kerja aja bikin gue mengurungkan niat tersebut. Kalau memang mau tetap bisnis, buat sampingan aja.

Sebagai orang yang meyakini saran nyokap sadalah salah satu cara Tuhan menyampaikan apa yang terbaik (meski gue merasa bukan yang terbaik), gue tanpa pikir panjang langsung buka Jobstreet.

Sampai-sampai, situs Narto.ID langsung gue sulap jadi hiring page. Padahal kalau bisnis afiliasi tadi disetujui nyokap, gue mau jadiin blog bertema bisnis online.


Merdeka dari batuk-batuk

Yap, batuk-batuk cukup sering gue alami sepanjang hidup gue. Paling sering batuk-batuk karena kompilasi flu. Penyakit standar yang bisa sembuh cukup dengan obat berkandungan paracetamol plus istirahat cukup.

Tapi kalau batuk-batuk berkepanjangan alias bukan cuma karena kompilasi flu, pertama kalinya gue alami saat kelas 9. Bokap sampai harus bawa gue ke rumah sakit karena ternyata diduga mengidap paru-paru basah.

Sejauh yang gue inget, itu pertama kalinya pula gue dirawat di rumah sakit.

Waktu kemudian melesat tahun. Gue tumbuh menjadi seorang karyawan outsourcing sebagai operator CS berbasis social media.

Gak jauh beda sama kakak-kakak gue yang memang pekerjaannya selalu shifting. Bedanya kalau kakak-kakak gue selalu bekerja di industri manufactur, gue di industri teknologi telekomunikasi. Shifting juga biar layanan bisa online 24 jam.

Di situ gue ngalamin lagi yang namanya batuk berkepanjangan sampai-sampai beberapa teman kerja gue menganggap waktu gue di dunia sudah mau habis. Ya ampun~

Sadar bahwa batuk ini bikin enggak nyaman diri sendiri maupun sekitar, akhirnya gue memberanikan di ke rumah sakit setelah berkali-kali menunda karena merasa cukup ke klinik aja.

Iyalah, gue anti banget sama rumah sakit. Bukan karena mesti ngadepin jarum suntik ya. Tapi gue benci banget sama antrian layanan publik.

Singkat cerita, setelah hasil rontgen thorak keluar, diketahui bahwa ada gejala bronkitis. Waw.


Juna Junarto Narablog yang masih menekuni profesi digital di sebuah perusahaan teknologi internet.

0 Response to "Makna Kemerdekaan 2021 Bagi Karir"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel